Senin, 27 Desember 2010

tugas

PROTOTIPE PEMANFAATAN SIG
UNTUK PENGELOLAAN KAWASAN TAMBAK
(Studi Kasus : Kabupaten Serang)
oleh: Akhmad Riqqi ST, MSi* dan Dr. Noorsalam R Nganro**
ABSTRAK
Dalam upaya mengelola kawasan yang berwawasan lingkungan, diperlukan berbagai informasi yang
terkait dengan kawasan tersebut. Penelitian ini mencoba untuk mengembangkan prototipe sistem informasi
geografik (SIG) untuk mengelola kawasan pesisir dengan kasus pengelolaan kawasan tambak di Kabupaten
Serang, Jawa Barat.
Dalam proses mengembangkan SIG, terlebih dahulu digambarkan model ekosistem pesisir yang
memuat berbagai tata guna lahan yang berada di daerah aliran sungai dan kawasan pesisir. Kemudian,
informasi-informasi tersebut dianalisis dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu analisis kesesuaian
lahan (suitability analysis) dan analisis keberlanjutan (sustainablity analysis). Dengen menggunakan
analisis kesesuaian lahan diketahui bahwa hampir seluruh kawasan tambak yang ada di daerah pesisir
Kabupaten Serang cocok untuk pertambakan (8500 Ha). Namun dengan analisis keberlanjutan ternyata
hanya 19 % (1600 Ha ) dari kawasan tersebut yang dapat dinyatakan sebagai kawasan tambak yang dapat
berkelanjutan untuk digunakan sebagai kawasan budidaya di Kabupaten Serang.
ABSTRACT
In order to manage the area or region environmentally sound. It is necessary to need the integrated
information related to the area. This research is trying to develop a prototype of geographic information
system (GIS) for managing coastal area with special aim to manage coastal aquaculture area in Serang
Regency, West java.
In the process of constructing the GIS, the coastal ecosystem model has been first described which
consists of landuses along watershed area and in coastal area. Then, those geographic information were
analysed in two approaches i.e suitability analysis and sustainability analysis. The result of analysis using
the suitability analysis shows that almost the whole coastal areas in Serang Regency are suitable for
aquaculture (±8500 Ha). However, when using the sustainability analysis shows that only about 19 %
(±1600 Ha ) of the coastal area are considered environmentally sustainable for aquaculture in Serang
Regency.
Pendahuluan
Pertambakan udang di Indonesia pada
tahun 1995-1997 mengalami malapetaka
produktivitas yang rendah karena tingginya
mortalitas. Akibatnya pada awal tahun 1997
diperkirakan hanya 10-15% luas tambak semiintensif
dan intensif yang beroperasi (6) .
Terjadinya penurunan produksi udang secara
nasional, menurut para petani tambak dan para
pakar perikanan, diakibatkan oleh adanya
penurunan kualitas air yang dimanfaatkan oleh
tambak (6). Pendapat lain mengatakan bahwa
penyebab penurunan produksi tambak udang
nasional adalah masalah teknis dan non-teknis
yang terutama berkaitan erat dengan pengelolaan
kawasan pantai yang kurang mengindahkan
daya dukung (1).
Perencanaan kawasan tambak selama ini
dilakukan dengan hanya melihat kondisi mikro
untuk kesesuaian lahan untuk tambak, tidak
melihat kondisi wilayah secara makro. Oleh
karenanya diperlukan suatu pendekatan baru
dalam suatu perencanaan yaitu metode
perencanaan secara ekologis (ecological planning
methode). Perencanaan secara ekologis adalah
perencanaan yang memanfaatkan informasi
biofisik dan sosiokultur untuk melihat suatu
peluang dan membantu pembuatan keputusan
mengenai penatagunaan lahan (10).
Produksi hayati laut Indonesia secara alami
sangat ditentukan oleh kondisi kelangsungan
fungsi ekosistem mangrove, ekosistem terumbu
karang, dan ekosistem lamun rumput laut. Ketiga
interaksi ekosistem ini merupakan ciri ekosistem
perairan laut tropis yang memberikan kontribusi
2
penting terhadap tingginya kekayaan
keanekaragaman hayati laut (4,6, 9).
Oleh karena itu diperlukan suatu sistem
informasi yang dapat menggambarkan kondisi
lingkungan dan sektor-sektor kegiatan secara
menyeluruh. Dengan dikembangkannya sistem
informasi geografik untuk kawasan pertambakan,
diharapkan dapat memberikan masukan terhadap
para pengambil keputusan dan pengelola tambak
dalam mengelola lingkungannya agar kawasan
tambak dapat berproduksi secara berkelanjutan.
Dalam penelitian telah dikembangkan prototipe
pemanfaatan sistem informasi geografik untuk
pengelolaan kawasan tambak dan penyusunan
data dasar dalam sistem informasi geografik
pengelolaan wilayah pesisir, khususnya kawasan
tambak dengan studi kasus Kab. Serang. Serta
pengembangkan analisis untuk wilayah pesisir
dan kelautan dalam pengelolaan kawasan tambak
yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
Materi dan Metode
Deskripsi Wilayah dan Waktu Penelitian
Kawasan tambak di Kabupaten Serang
secara geografis berada pada 600.14’ LS 10605,6’
BT dan 5057.51’ LS 106024,95’ BT. Kawasan
tambak ini memiliki luas 8.531 Ha dan berada di
sepanjang pantai teluk Banten mulai dari ujung
selatan Kecamatan Bojonegoro, Kecamatan
Kramatwatu, Kecamatan Kasemen, Kecamatan
Pontang, dan Kecamatan Tirtayasa.
Waktu penelitian dilaksanakan antara bulan
April sampai dengan bulan Juli 2000 untuk
pengumpulan data peninjauan lapangan dan bulan
Juli sampai dengan Nopember 2000 untuk
pengembangan sistem informasi geografik,
termasuk pengembangan model untuk analisis.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data sekunder dilakukan
untuk memberikan masukan ke dalam sistem
informasi geografik, baik itu data spasial maupun
data atribut
Analisis dengan SIG
Analisis Kesesuaian Lahan
Analisis kesesuaian (suitability analysis)
lahan dimaksudkan untuk mengetahui kesesuaian
suatu lokasi tambak dengan menggunakan konsep
evaluasi lahan (8). Hal ini akan ditinjau beberapa
kriteria fisik yang secara ekologi merupakan
persyaratan kelayakan dalam budidaya tambak
udang. Dalam menentukan tingkat kesesuaian
lahan pantai untuk budidaya tambak ditentukan
dengan metode skoring atau metode Weight
Linier Combination dengan mengambil beberapa
parameter serta pembobotan dalam menentukan
tingkat kesesuaiannya menurut Soebiantoro
(1990) (9).
Analisis Keberlanjutan Lahan
Analisis keberkelanjutan (sustainability analysis)
lahan dimaksudkan untuk memperoleh gambaran
mengenai pengelolaan tambak agar produksi
udang dapat dipertahankan dan dapat memberikan
manfaat secara sosial dan ekonomi. Analisis ini
secara spasial akan dikaitkan dengan keterkaitan
hubungan air (water related), hutan mangrove dan
ekosistem lainnya di wilayah pesisir (vegetation
& wildlife interest), dan tata guna tanah. Dalam
mengembangkan model sustainability analysis
dilakukan dengan pendekatan model struktur
hirarki (hierarchiecal structure) (4,7) dan untuk
standarisasi data/kriteria menggunakan metode
revise probability (7) dan Group Decision Making
(GDM) dalam pembobotannya(7).
Skenario Pola Pengelolaan
Pola pengelolaan dibuat berdasarkan hasil
yang diperoleh dari analisis kebelanjutan lahan.
Tindakan pengelolaan bisa diimplementasikan
dalam bentuk perencanaan pengelolaan maupun
program kerja pengelolaan. Dalam
mengimplementasikan pola pengelolaan dalam
SIG dilakukan dengan menggunakan skenario
what if (2).
Hasil dan Pembahasan
Hasil Analisis Kesesuaian Lahan
Berdasarkan hasil pengolahan data spasial
dengan menggunakan teknik overlay bertingkat
dari 6 peta tematik diperoleh 2970 unit lahan
untuk seluruh Kab. Serang dengan berbagai sifat
tanah dan air (Gambar 1). Berdasarkan kelas
kesesuaian hanya 37 unit lahan yang dapat
dijadikan daerah pertambakan.
3
Ke-tigapuluh tujuh unit lahan ini berada
pada kawasan Teluk Banten dari Kecamatan
Bojonegoro sebelah selatan hingga Kecamatan
Tirtayasa yang berbatasan dengan Kab.
Tanggerang (Gambar 2). Diperoleh luas lahan
yang sesuai untuk budidaya tambak adalah
8.237,6 Ha (32 unit lahan), sedangkan lahan yang
kesesuaianya marginal seluas 293,3 Ha (5 unit
lahan).
Dari hasil ini dapat dikemukakan bahwa
perencanaan daerah Kab. Serang yang tertuang
dalam rencana induk tata ruang Kab. Serang,
untuk kawasan tambak / budidaya perikanan
sudah sesuai dengan kondisi dan kesesuaian
secara mikro. Tetapi, untuk mengembangkan
kawasan tersebut sebagai kawasan tambak harus
memperhatikan hasil analisis keberlanjutan lahan.
Hasil Analisis Keberlanjutan Lahan
Ekologi
Peta yang dihasilkan dari analisis
sustainability (Gambar 3) memperlihatkan hasil
yang berbeda dengan analisis suitability. Hasil
analisis menunjukan bahwa tidak seluruh kawasan
tambak yang cocok untuk pertambakan dapat
dijadikan lahan tambak karena adanya pengaruh
kawasan lain.
Secara ekologi, kawasan tambak sebelah
barat akan mengalami ancaman dengan
berkembangnya daerah industri di Bojonegoro.
Dari rencana induk Kab. Serang, bagian pesisir
Kecamatan Bojonegoro merupakan Zona Industri
dan data perizinan industri tahun 1998
menunjukan bahwa sepanjang pantai telah ada
izin untuk perindustrian hingga ke Kecamatan
Kramatwatu. Keterancaman secara ekologi
kawasan tambak ini sampai ke desa Sawah Luhur.
Dalam kawasan tambak, unit lahan yang
memiliki keunggulan secara ekologi
dibandingkan unit lahan lainnya adalah unit lahan
yang berada di Kecamatan Kasemen, sebelah
timur Desa Sawah Luhur dan Kecamatan Pontang
sebelah barat. Unit lahan ini dekat dengan
kawasan hutan mangrove Pulodua.
Selain lokasi diatas, pada hasil analisis
diperoleh bahwa daerah muara sungai Ciujung
diperoleh memiliki potensi untuk dijadikan
kawasan tambak, secara ekologi. Tetapi
didasarkan pada hasil survey lapangan, menurut
petambak di Kec. Tirtayasa, tambak mereka
mengalami penurunan produksi dan kegagalan
panen yang diakibatkan oleh adanya kawasan
industri di Kab. Tanggerang. Kontradiksi antara
hasil analisis dan kenyataan di lapangan,
diakibatkan kekurangan data pada daerah aliran
sungai Ciujung.
Kawasan tambak yang berada di Kec.
Pontang sebelah utara dan Kec. Tirtayasa
merupakan kawasan tambak yang potensial
dikembangkan, tetapi memiliki kelemahan secara
ekologi.
Daerah Pasang Surut
Kualitas Air thn 2000
Jenis Tanah
Kelerengan
Iklim
Hidrogeologi
Legenda :
Hasil Overlay
untuk Kesesuaian lahan
U
Gambar 1. Hasil Overlay Bertingkat
PPanjang
Ci Ujung
PDua
Teluk Banten
TidakSesuai
Marginal
Sesuai
Legenda :
Kab. Serang
Tl. Banten
Lokasi
Gambar.2 Hasil Analisis Kesesuaian Lahan
Kec.
Bojonegoro
Kec.
KramatWatu
Kec. Kasemen
Kec. Pontang
Kec. Tirtayasa
P. Panjang
Tl. Banten
Pulodua
Strength
Weakness
Opportunity
Threaten
Keterangan :
Lokasi
Kab. Serang
Tl. Banten
Gbr .3 Hasil Analisis Keberlanjutan Lahan secara Ekologi
4
Sosial Ekonomi
Hasil menunjukan (Gambar 4) bahwa
kawasan tambak sebelah barat akan mengalami
ancaman secara sosial ekonomi. Ancaman ini
dapat berupa berkurangnya tenaga kerja karena
dekat dengan kawasan industri dan segi
keamanan. Kawasan tambak yang mengalami
ancaman yaitu kawasan tambak yang berada di
Kec. Bojonegara dan Kec. Kramatwatu.
Sedangkan untuk kawasan lain yang berada
di Kec. Kasemen, Kec. Pontang, dan Kec.
Tirtayasa secara sosial ekonomi memiliki
kelemahan, dikarenakan sulit dijangkau dan jauh
dari pusat kota.
Pola Pengelolaan
Dari hasil analisis keberlanjutan lahan maka
diperoleh hasil untuk pola pengelolaan pada
masing-masing unit lahan. Hasilnya secara spasial
dapat dilihat pada Gambar 5.
Tampak dari Gambar 5 bahwa untuk kawasan
tambak di Kecamatan Bojonegoro dan Kecamatan
Kramat Watu (huruf A), pola pengelolaan
menyarankan untuk tidak dijadikan pertambakan
akan tetapi dialih fungsikan menjadi fungsi lahan
yang memiliki fungsi sosial seperti penghijauan
kembali lahan pantai.
Pada kawasan tambak di sebagian Kecamatan
Kramat Watu yang berbatasan dengan Kecamatan
Kasemen dan sebagian kawasan tambak yang
berada di Kecamatan Kasemen (huruf B),
memiliki potensi secara sosial ekonomi karena
memang daerah ini dekat dengan pasar yaitu
pelabuhan Banten. Tetapi, apabila daerah ini
dijadikan pertambakan akan memiliki ancaman
yang berat dengan adanya limbah dari kota
Serang sebab di daerah ini bermuara beberapa
sungai yang melewati kota Serang.
Di kawasan tambak yang berada dekat
dengan Pulodua, baik itu yang berada di
Kecamatan Kasemen maupaun di Kecamatan
Pontang, merupakan kawasan tambak yang
potensial untuk di jadikan kawasan pertambakan.
Untuk daerah sebelah barat Pulodua (huruf C) dan
sebelah timur (huruf F) merupakan potensi untuk
dijadikan daerah cadangan untuk perluasan
pertambakan. Sedangkan untuk daerah yang dekat
dengan Pulodua (huruf D) merupakan daerah
yang baik untuk dijadikan kawasan pertambakan,
tetapi dengan tetap mempertahankan keberadaan
hutan mangrove di daerah tersebut dan yang perlu
dikembangkan adalah infrastruktur untuk
pertambakan seperti halnya jaringan jalan, karena
daerah ini sulit dijangkau dengan kendaraan.
Sedangkan kawasan tambak yang berada
Kecamatan Kasemen dan Kecamatan Pontang
sebelah selatan (huruf E) merupakan daerah yang
baik untuk dijadikan lahan pertambakan, karena
memiliki aksesibilitas yang baik dan secara
ekologi mendukung. Di daerah ini terdapat
perusahaan tambak yaitu PT. Indokor Tatamina di
Desa Kemayungan, Kec. Pontang.
Di kawasan tambak yang berada di
Kecamatan Pontang yang berada di Tanjung
Pontang (huruf G) merupakan daerah yang sulit
untuk mendapatkan air tawar dan sulit dijangkau
dengan kendaraan, sehingga pembangunan
tambak di kawasan ini akan memerlukan modal
yang besar serta perlu adanya usaha untuk
meningkatkan daya dukung lingkungannya.
Kawasan tambak yang berada di
Kecamatan Tirtayasa, tepatnya daerah di sekitar
Desa Lontar (huruf H) merupakan daerah yang
perekonomiannya cukup baik dari hasil perikanan
tangkap, daerah ini kurang baik untuk dijadikan
kawasan tambak karena secara ekologi kurang
mendukung. Pantai yang ada didaerah ini bukan
merupakan pantai hasil endapan (aluvial) dan
Tl. Banten
Kab. Serang
Kec. Bojonegoro
Kec. Kasemen
Kec. Tirtayasa
Kec.
KramatWatu Kec. Pontang
P. Panjang
Pulodua
Strength
Weakness
Opportunity
Threaten
Keterangan
Lokasi
Kab. Serang
Tl. Banten
Gambar 4 Hasil Analisis Keberlanjutan Lahan secara
Sosial Ekonomi
Gambar 5 Pola Pengelolaan
Kec.
Bojonegoro
Kec.
KramatWatu
Kec. Kasemen
Kec. Pontang
Kec. Tirtayasa
Tl. Banten
P. Panjang
Pulodua
Pola Pengelolaan 1
Keterangan :
Pola Pengelolaan 4
Pola Pengelolaan 3
Pola Pengelolaan 2
Pola Pengelolaan 5
Pola Pengelolaan 8
Pola Pengelolaan 7
Pola Pengelolaan 6
A
B
E
C
D
G
F
H
I
J
5
tidak ada sungai yang bermuara di daerah ini.
Sedangkan daerah yang berada di Desa Tirtayasa
(huruf I) merupakan daerah hasil endapan dan
merupakan muara sungai besar yaitu Ci Ujung.
Merupakan daerah yang cocok untuk
pertambakan, tetapi perlu diperhatikan bahwa Ci
Ujung merupakan sungai yang menjadi muara
untuk beberapa kawasan industri di Kabupaten
Tanggerang.
Kawasan tambak yang berada paling timur
di Kecamatan Tirtayasa (huruf J) merupakan
kawasan yang potensial secara ekologi untuk
dijadikan kawasan tambak, tetapi secara sosial
ekonomi kurang. Program yang perlu dilakukan
pada daerah ini adalah pengembangan
infrastruktur untuk mendukung usaha
pertambakan dan usaha peningkatan daya dukung
dengan program penghijauan lahan pantai dengan
mangrove.
Kesimpulan
Dari hasil analisis yang dikembangkan
dapat dibuat beberapa kesimpulan :
a. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan,
kawasan pertambakan di daerah Teluk Banten,
pada umumnya cocok untuk dijadikan
kawasan pertambakan.
b. Berdasarkan analisis keberlanjutan lahan,
dapat dikemukakan bahwa:
•Kawasan tambak Teluk Banten
sebelah barat akan mengalami tantangan
yang berat oleh karena adanya
perkembangan industri dan pemukiman.
•Kawasan tambak yang baik adalah pada
kawasan tambak yang berada di sekitar
Pulau Dua dan kawasan yang berada
pada muara Sungai Ciujung Lama dan
Sungai Ciujung.
DAFTAR PUSTAKA
1. Ahmad, T., 1998. Perbaikan Produktifitas
Lahan Tambak Secara Alami. Prosiding
Seminar Bioteknologi Kelautan Indonesia I.
LIPI. Jakarta. p 85 – 97.
2. Bukley, J.D., 1999. The GIS Primer : An
Introduction to Geographic Infromation
Systems. Innovative GIS Solution, Inc.
3. Mann K.H.,1982. Ecology of Coastal Waters:
A System Approach. Blackwell Scientific
Publications. Oxford. UK.
4. Malczewski, J.,1999. GIS and Multicriteria
Decision Analysis. JohnWiley & Sons. New
York.
5. Nganro, N., 1998. Pengelolaan Kualitas Air
pada Sistem Aquakultur di Perairan Pesisir.
Prosiding Seminar : Tantangan dan Prospek
Hayati dalam Meningkatkan Ketahanan
Ekonomi Nasional, ITB. p 123-133.
6. Nganro, N. dan Sjarmidi, A., 2000.
Paradigma dan Alternatif Pengelolaan
Ekosistem Pesisir dan Laut di Indonesia.
Makalah Seminar Pemikiran ITB dalam
Pengembangan Kelautan di Indonesia. ITB.
Bandung.
7. Saaty, T.L., 1980. The Analytical Hierarchy
Process. McGraw-Hill.New York.
8. Sitorus, S.R.P., 1996. Evaluasi Sumber Daya
Lahan. Tarsito. Bandung.
9. Soebianto, B., 1990. The Detailed Design of
Improvements of Brackishwater Ponds
Water Supply in Pinrang and Barru Districs
South Sulawesi Province. Report. Jakarta.
10. Steiner, F.R., 1991. The Living Landscape:
An Ecological Approach to Landscape
Planning. Mc-Graw Hill. New York.
11. Unesco, 1983. Coral Reef, Seagrass Beds and
Mangroves : Their Interaction in Coastal
Zones of the Caribbean. Unesco Report in
Marine Science 23. Division of Marine
Science Unesco. Paris

Tidak ada komentar:

Posting Komentar